Nama Haris Azhar cukup masyhur di kalangan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM), terutama bagi mereka yang bergerak di bidang pendampingan hak asasi manusia (HAM). Khusus di KontraS, ia tercatat aktif sejak 1999 sebagai sukarelawan di bagian divisi advokasi.

 

Di KontraS, Haris boleh dibilang memiliki prestasi yang menonjol. Hal ini terbukti dengan posisi yang terus meningkat dari sekadar relawan menjadi anggota staf monitoring dan biro riset dalam waktu cukup singkat, lantas ia juga langsung dipercaya sebagai kepala dokumentasi dan biro riset, kemudian beranjak sebagai kepala riset investigasi dan biro database, lantas wakil koordinator, hingga kemudian dipercaya sebagai koordinator KontraS sejak 2010 lalu menggantikan ketua presidium Ori Rahman sesudah meninggalnya aktvis Munir pada 7 September 2004 lalu.

 

Ketertarikan Haris pada pendampingan hukum dan HAM muncul sejak menamatkan pendidikan sarjananya di Universitas Trisakti pada 1999. Guna mematangkan kajian yang dianggapnya menarik itu, Haris melanjutkan pendidikannya tentan teori dan praktik HAM di Universitas of Essex Inggris pada 2010.

 

Selain menempa diri dalam bidang hukum dan HAM, pada 2003 Haris meraih gelar magisternya di bidang filsafat di Universitas Indonesia (UI). Ia juga meraih diploma keadilan transisi melalui program Fellowship di the International Center of Transitional Justice in Cape Town, New York.

 

Di kalangan sendiri, Haris dikenal kritis. Menurut salah satu anggota badan penasihat KontraS, Maman Imanulhaq, Haris merupakan sosok yang mampu melihat satu persoalan dari segala sisi dengan sangat cermat berdasarkan rujukan yang matang.