Polisi pemilik rekening Rp1,5 triliun yang menjadi terpidana kasus pencucian uang dan pembalakan liar di Sorong, Papua Barat.

Labora Sitorus

Ajun Inspektur Satu (Aiptu) Labora Sitorus, polisi pemilik rekening Rp1,5 triliun yang menjadi terpidana kasus pencucian uang dan pembalakan liar di Sorong, Papua Barat, akhirnya menyerahkan diri ke Polres Metro Sorong, Senin 7 Maret 2016. Labora kabur saat hendak dieksekusi ke Lembaga Permasyarakatan (LP) Cipinang pada Jumat 4 Maret 2016.


Pada 13 September 2014, Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara terhadap Labora atas tuduhan pencucian uang dan pembalakan liar. Labora mempertanyakan dasar hukum yang digunakan MA sehingga ia bersikeras akan melakukan perlawanan terhadap putusan itu.


Labora kerap kali keluar masuk penjara tanpa ada pengawalan ketat dari petugas kepolisian. Ia juga sering mengaku sakit agar bisa menghirup udara bebas dari balik jeruji. Terakhir, ia mengaku lebih baik mati, ketimbang mendekam di balik jeruji besi selama 15 tahun.


Pada 14 Mei 2013, Kapolda Papua, saat itu, Irjen Tito Karnavian mengumumkan bahwa ada satu polisi di Polres Raja Ampat, Papua Barat, yang memiliki rekening gendut. Nilainya Rp1,5 triliun. Ini berdasarkan laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).


Polda Papua langsung memeriksa Aiptu Labora Sitorus, orang yang diduga pemilik rekening gendut itu. Dia disangka memiliki bisnis BBM (bahan bakar minyak) ilegal, penebangan hutan ilegal, dan pencucian uang.


Kasus ini juga mencuat, setelah sebelumnya 15 kontainer kayu tertahan di Tanjung Perak, Surabaya. Kayu-kayu ini, ternyata milik perusahaan Labora yang diduga hasil penjarahan hutan.