Dikenal sebagai politisi berdarah Bugis.

Marwah Daud Ibrahim

Tempat lahir: Soppeng, Sulawesi Selatan

Tanggal lahir: 8 November 1956

Marwah Daud Ibrahim dikenal sebagai politisi berdarah Bugis. Namanya kembali muncul meramaikan pemberitaan seiring hebohnya kasus dugaan penipuan yang dilakukan Kanjeng Dimas Taat Pribadi. Marwah tampil sebagai sosok paling gigih membela pimpinan padepokan di Probolinggo, Jawa Timur tersebut.


Di lingkungan dekatnya, sejak kecil Marwah dikenal sebagai perempuan cerdas. Semasa menempuh pendidikan di tingkat Sekolah Dasar (SD) Pacongkang, Sulawesi Selatan misalnya, Marwah tidak diharuskan menggenapi kegiatan belajar selama enam tahun. Di akhir tahun pelajaran kelas lima, ia diperbolehkan guru dan pihak sekolah mengikuti ujian akhir.


Setelah dinyatakan lulus, Marwah melanjutkan pendidikannya ke SMPN 1 Pacongkang dan diteruskan ke SPG Negeri Ujungpandang. Pada 1981, Marwah merampungkan pendidikan tingginya di Fakultas Ilmu Sosial Politik Jurusan Komunikasi Universitas Hasanudin.


Berbekal kecerdasan yang dimiliki, putri pasangan Muhammad Daud dan Siti Rahman Indang itu berhasil mendapatkan beasiswa S2 di American University, Washington DC, Amerika Serikat. Atas kualifikasi yang ada, ia dianggap layak mendulang ilmu pengetahuan di jurusan Komunikasi Internasional. Di ruang belajar bergengsi ini, Marwah menuntaskan prosesnya hingga tahun 1982.


Sepulang dari Negeri Paman Sam dan menikah dengan Ibrahim Taju, Marwah mengabdikan diri di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang kala itu diketuai BJ. Habibie. Lagi-lagi, Habibie pun tertarik dengan kecerdasan Marwah. Melalui BPPT, ia didorong kembali merengkuh beasiswa di kampusnya terdahulu hingga berhasil meraih gelar doktor pada 1989 dengan predikat distinction, alias lulusan terbaik.


Setelah layak menyandang Ph.D., Marwah memutuskan untuk bergabung dan menuangkan gagasannya di Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Tak tanggung-tanggung, sosok yang juga didapuk sebagai Lulusan Terbaik Lemhannas KSA-V pada 1995 itu langsung menempati posisi sebagai Sekretaris Umum.


Aktfitas Marwah mulai merambah ke bidang lain. Marwah rupanya mulai tertarik dengan dunia politik. Pada 1997, Marwah berhasil duduk di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) melalui Golongan Karya (Golkar). Seusai Reformasi 1998 bergulir, kejeniusan Marwah dalam dunia perpolitikan Indonesia pun semakin banyak dilirik. Hanya saja, setelah gagal diloloskan sebagai bakal calon Wakil Presiden mendampingi KH Abdurrahman Wahid pada Pemilihan Presiden 2004, nama Marwah kembali menyepi.