Ia dikenal sebagai politisi sekaligus pendiri Partai Demokrat.

Sutan Bhatoegana

Tempat Lahir: Pematang Siantar

Tanggal lahir: 13 September 1957

Sutan Bhatoegana Siregar dikenal sebagai politisi sekaligus pendiri Partai Demokrat. Ia pernah menjabat anggota komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) periode 2009-2014. Sutan  terpilih melalui pemilihan umum legislatif 2009 dari daerah pemilihan (dapil) Sumatera Utara I yang meliputi Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Tebing Tinggi.


Pendidikan Sutan diawali di SD Negeri 12 Padang Sidempuan, Sekolah Teknik Negeri (setingkat SMP) 1 Pematang Siantar, kemudian STM 1 Medan.


Setelah merampungkan pendidikan menengah pada 1979, Sutan melanjutkan studinya Akademi ATN Yogyakarta. Ia juga pernah berkuliah di kampus STIE Jagakarsa untuk jurusan Manajemen hingga 1996. Sutan mengambil bidang yang sama saat menempuh pendidikan pascasarjana  STIM Jakarta.


Karier politik Sutan dimulai dengan turut mendirikan Partai Demokrat. Dalam partai yang pembentukannya bertujuan mengangkat figur Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai calon Presiden itu, Sutan kerap menduduki posisi penting. Yakni, Wakil Sekretaris Jenderal DPP dan Ketua Departemen Perekonomian DPP Partai Demokrat.


Nama Sutan makin mencuat setelah ditetapkannya Rudi Rubiandini sebagai tersangka kasus suap SKK Migas.Sutan Bhatoegana turut terseret lantaran diduga meminta sejumlah uang kepada Rudi dengan alasan sebagai Tunjangan Hari Raya (THR). Nama Sutan juga muncul dalam BAP Rudi dan berulang kali disebut di persidangan.


Pada 14 Mei 2014, Sutan resmi ditetapkan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sutan juga disangkakan dalam kasus dugaan penerimaan hadiah atau janji terkait dengan pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) di Kementerian ESDM. Ia diganjar Pasal 12 huruf a atau pasal 12 huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12 B Undang-Undang (UU) Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto (Jo) Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.


Mulanya, Sutan divonis 10 tahun penjara. Namun oleh Mahkamah Agung, tuntutan diperberat dengan penambahan dua tahun masa kurungan. Belum lama ia hidup di dalam Lapas Sukamiskin, Sutan didera penyakit liver cukup berat. Ia berulang kali mengalami masa kritis dan dirawat di RS Medistra Jakarta Selatan, RS Hermina Bandung, serta RS Medical Center Bogor.